Jane’ Addiction

Dulu gua slalu heran dengan orang2 yang mengalami kecanduan yang negatif, karena banyak dari mereka yang sebenarnya memiliki kehidupan yang baik. Kalau.sudah baik, kenapa harus dihancurkan? Tapi buntutnya gua sama aja : kecanduan terhadap coklat dan saudara2nya.

HUGO

Termasuk telat nontonnya … hehehe. baru semalem akhirnya berniat utk muter di dvd. sebenernya baca resensi dimana2, rada males sih. apalagi penekanan utama tokoh utama ada pada anak kecil, bayangan gua jadi ke film2 macem tom sawyer, yg sebenernya bagus tapi males aja.

Tapi menjelang pertengahan film, jelas semua ekspektasi gua itu keliru. ini bisa dibilang film yg sangat bagus sekali (ya gak heran secara dapet 5 oscar pula), dimana gua suka dgn semua karakter yg tampil. ben kingsley, langsung dapet dikenali dari pertama kali dia muncul (gua gak tau dia memang maen disini). dia tampil superb. ketika gak banyak kakek2 yg tetep laku maen film di hollywood, aktor yg satu ini terus2an tampil bagus di setiap film-nya. bahkan seorang al pacino aja skarang blajar utk menerima film dgn script yg jelek, karna dia tau dia akan tetep dibayar mahal .. hehe.

Ggua suka dgn suasana Paris pasca perang dunia kedua, dan permainan cerita yg membuat perasaan jadi ikut berdebar2 .. hehehe. persahabatan antara hugo & isabelle mengingatkan gua dgn kisah2 anak2 milik enid blyton yg suka gua baca waktu kecil, atau film2 / kisah2 laen tentang persahabatan jaman gua kecil lah (1980an hingga awal 1990an). keinginan akan adventure-nya isabelle itu khas kisah2 eropa saat itu banget.

Ini film yg bukan hanya bagus utk disimak, tapi juga sangat bagus utk anak2, remaja hingga orang dewasa karna dapat menginspirasikan mereka dlm menjalankan hidup mereka kembali menjadi menyenangkan. dan ketika sebuah film mampu membuai seorang penonton utk terus terpaku pada layar tv, itulah yg membuat film tsb menjadi begitu istimewa. film ini memang tidak heboh di 21, tapi menurut gua layak disejajarkan dgn film2 terbaik yg pernah dibuat, dan layak dikenang nantinya. berlebihan ? menurut gua tidak.


Secluded

 

Ketika gua menulis saat ini, gua menulisnya di McD Cililitan, dimana gua sebenernya cuma niat numpang cuci tangan doang, tapi kebetulan ngeliat ada komputer kosong, dan bisa dipake nge-net juga, jadilah gua duduk sebentar (yg akhirnya jadi duduk lama) utk menikmati fasilitas internet gratis ini, tanpa bayar, tanpa pesan makanan. aneh juga .. hehe.

Ngomong-2 soal nge-net, jaman skarang jelas udah canggih. nge-net bukan cuma mentok di pc aja tapi bisa di smartphone, bahkan katanya di tv skarang juga udah bisa. tapi aktifitas internet gua dan pergaulan di dunia maya bisa dibilang makin minim saja. bahkan gua gak pake Blackberry. Gua make hp android tapi bini yg lebih banyak make. gua rada2 males gara2 batere-nya gampang lobat, secara yg namanya smartphone penyakitnya memang itu.

Jaman makin canggih. batasan2 makin tipis. tapi kok gua ngerasa makin secluded ya ? *curcol aneh menjelang weekend.

GRUNGE SEBAGAI JATI DIRI

Grunge, mungkin adalah salah satu kata yang paling berpengaruh dalam hidup gua ketika masa-masa ABG dulu di awal tahun 1990an. Waktunya pun memang tepat, dimana saat itu adalah proses terjadinya perubahan dari masa kanak-kanak (lulus SD) menuju proses berikutnya (memasuki SMP), yaitu masa remaja. Kehidupan remaja, selalu diikuti oleh pencarian jati diri, berkenalan dengan hobi & minat yang baru, mulai mengenal & menyukai wanita, dan terkadang tak jarang mulai melawan guru di sekolah serta melawan orang tua di rumah. Melihat kehidupan remaja, memang tidak selalu diisi oleh hal-hal yang baik-baik saja.

Remaja juga sering bingung dengan kehidupan barunya, dan ini termasuk gua juga. Menjelang akhir masa SD gua sudah dikenalkan dengan musik oleh bokap gua melalui kursus gitar klasik, yang tujuan sebenarnya adalah untuk menambah daya konsentrasi gua, karena gua “dituding” sering tidak konsentrasi kalau sudah menyangkut pelajaran matematika. Pada akhirnya teori tersebut tidak pernah benar-benar terbukti, karena justru nilai matematika gua jadi bagus karena justru ikut kursus tambahan lainnya yaitu kursus matematika.

Namun kursus gitar klasik tetap jalan, dan persis memasuki SMP, selera musik pun juga ikut berubah. Awalnya menyukai Guns N’ Roses yang lagi booming saat itu, namun seketika itu juga gelombang grunge hadir melalui Nirvana. Teman-teman SMP yang lebih condong menyukai musik metal pun, akhirnya mendengarkan Nirvana, meski ada dari mereka yang sempat men-cap Nirvana sebagai kumpulan musisi yang miskin dan kumuh. Tapi akhirnya dorongan itu pun tiba, daya tarik Nirvana akhirnya membuat gua tergerak untuk membeli kaset mereka : album Nevermind. Itu adalah langkah besar dan berpengaruh bagi gua, untuk minimal satu dekade ke depan setelah itu. Gua lebih suka ngulik lagu-lagu Nirvana ketimbang melototin not-not balok lagu-lagu klasik yang terasa kaku dan membosankan, tidak peduli bokap gua bilang bahwa musik klasik adalah dasarnya musik, tapi Nirvana dan semangat grunge mereka terasa lebih bergairah, lebih menyenangkan, lebih sederhana, namun lebih membara di hati.

Gaya musik mereka lebih kena buat remaja seperti gua saat itu. Kord-kord gitarnya gampang, liriknya terasa jenaka, musiknya nge-rock namun tidak ngejelimet macem musik metal. Dan kadang musik mereka sepeti mewakili emosi yang sedang kita rasakan saat itu, biasanya ketika sedang sedih atau marah. Memasuki masa SMA, rasanya semakin mantap menyatakan diri bahwa grunge adalah life style yang gua pilih, padahal tentunya arti grunge tidaklah sesederhana itu.

Grunge bisa dibilang sebagai anak dari perpaduan musik punk dan metal yang menguasai industri musik rock menjelang akhir tahun 1980an. Personel band pengusung grunge memang banyak terpengaruh oleh musik punk dan metal. Musik yang mereka ciptakan sendiri, akhirnya menjadi grunge. Tentunya Nirvana bukan satu-satunya pengusung musik grunge, karena masih ada Pearl Jam, Soundgarden, Screaming Trees, Mudhoney, TAD atau band-band dengan personel kebanyakan cewek seperti Hole, L7, Babes in Toyland, Bikini Kill, dll. Yang terdepan saat itu untuk kita ketahui di Indonesia adalah Nirvana & Pearl Jam.

Tema dalam lagu-lagu yang dibawakan Nirvana cenderung berisi tentang kemarahan, atau kesedihan, bahkan terkesan seperti musik yang muram dan depresi, sementara Pearl Jam lebih banyak bercerita tentang persahabatan, kehidupan sehari-hari dan hal-hal yang pada dasarnya sederhana. Para orang tua, dijamin akan membenci musik mereka karena jauh dari musik yang seharusnya mengandung nilai-nilai keindahan, sementara grunge ala Nirvana & Pearl Jam dan band-band lainnya lebih fokus pada muatan yang ingin disampaikan. Kemasannya tidak penting.

Apabila memang orang tua membenci Nirvana, tentunya mereka akan menekankan betapa berbahayanya sosok Kurt Cobain, dimana Cobain tidak pernah jauh dari narkoba, dan mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Bukan contoh yang baik untuk anak muda. Tapi gairah musik grunge, ternyata terus berjalan. Gua jelas menyukai musiknya, bukan semua gaya hidup buruk yang menyertai aktifitas para musisinya, meski gua pernah di tas jaman sma, menulis dengan tipe-x sebuah slogan : “anti kemapanan” dan orang tua sempat terlihat risau dengan tulisan tsb .. hehe.

Memasuki masa-masa kuliah, saat mengalami OSPEK seorang teman menanyakan selera musik  gua apa, jawaban pasti gua saat itu adalah grunge. Pertengahan masa kuliah ketika lagi merasakan putus cinta, gua berulang-ulang mendengarkan album Incesticide milik Nirvana. Entah dirumah, di bis ataupun diwaktu senggang dimanapun juga. Namun karena Nirvana jelas udah mentok karirnya, gak bakal pernah nambah album, maka pelan-pelan gua juga mulai mengkoleksi album-album milik Pearl Jam, dimulai dari dua album awal legendaris mereka : Ten & Versus, dan merekam lagu-lagu dari album Vitalogy, No Code & Yield. Ketika Nirvana sudah tamat di tahun 1994, yang menyenangkan dari Pearl Jam adalah mereka terus berkarya sepanjang tahun 1990an bahkan hingga tahun 2000an dengan lagu-lagu yang terus dapat diterima, karena mereka juga terus melakukan evolusi dengan musik mereka. Formasi mereka pun cenderung hanya terdapat perubahan pada sosok drummer semata, sisanya tetap komplit. Di era ini gua juga banyak mendengarkan musik rock jenis lain, tapi selalu selera utama tetap ada di grunge.

Memasuki tahun 2000, era dimana internet mulai berkibar, maka sumber lagu grunge bisa didapatkan dengan mudah melalui mp3 yang bisa didownload dengan mp3 sharing tool seperti napster & audiogalaxy, termasuk videoklip mereka. Seorang teman yang juga penggemar berat Pearl Jam pun akhirnya mulai mengajak untuk jam session dengan band-nya membawakan lagu-lagu pearl jam, plus membuat lagu-lagu sendiri. Di satu kesempatan, ketika band dia harus manggung di kampus dan mendadak disaat-saat akhir bassist-nya ternyata berhalangan untuk tampil, maka gua akhirnya ditarik untuk mengisi posisinya secara dadakan, tanpa pernah latihan sebelumnya .. hehe. Untungnya gua sudah biasa dengerin lagu-lagu Pearl Jam yang akan mereka bawakan saat itu, dan ketika rada lupa, tinggal liat ke gitaris mereka, kunci apa yg dia maenin .. hahaha. Kebahagian gua yang paling besar mungkin adalah ketika pernah membentuk band jam session untuk memainkan Nirvana bersama teman-teman, namun hanya sebatas di studio latihan, tapi tidak pernah berhasil sampai manggung.  Gaya berpakaian gua juga sempat nge-grunge, dengan modal jins (meski tidak butut / tidak belel / tidak robek2), kemeja kotak-kotak dan sepatu kets. Hanya berpenampilan begini aja bangganya sudah bukan main. Norak memang. Apalagi kalo sampe dibilang oleh temen, wah gaya lu grunge banget .. haha. Mission Accomplished !

Grunge di Amerika sana, pada akhirnya harus tergusur oleh waktu. Mereka tidak melakukan evolusi seperti yang terdapat pada musik metal, punk atau hardcore. Band-band pengusung grunge akhirnya bertumbangan, atau satu per satu mulai bubar serta menghilang begitu aja. Mereka cenderung berjalan beriringan dengan genre rock alternative, dan sepertinya memang sudah ditakdirkan untuk menjadi bagian dari pop culture di tahun 1990an.  Itu menurut gua. Meski di Indonesia sendiri, semangat grunge pada dasarnya terus ada. Band grunge Jakarta pengusung lagu-lagu Nirvana pertama yang gua lihat adalah Daily Feedback di tahun 1996, ketika mereka manggung di Bulungan. Permainannya sangat rapi, dan hingga beberapa tahun setelah itu mereka sering manggung di acara-acara underground di poster cafe misalnya, yang merupakan tempat gig awal band2 underground Jakarta sering manggung, bersama dengan pentolan band grunge spesialis Nirvana lainnya seperti Toilet Sound serta Happy Face.

Scene musik grunge Jakarta, sayangnya lebih sering didominasi oleh band yang membawakan Nirvana. Mereka yang berani membawakan Pearl Jam hanya sedikit. Diluar itu, gua hanya sekali pernah lihat ada yang membawakan Soundgarden, itu pun hanya 1 lagu yaitu Black Hole Sun. Sisanya ada band-band cewek yang memainkan lagu-lagu Hole, itu pun sesekali. Gua gak pernah liat mereka yang mengatasnamakan grunge, berani membawakan lagu-lagu dari Mudhoney, Screaming Trees, The Melvins, TAD, atau barisan ceweknya membawakan L7, Bikini Kill atau Babes in Toyland. Scene grunge Jakarta, terus terang sempat terlihat membosankan, kecuali memang kalau Daily Feedback yang bermain, karena mereka sering membawakan lagu-lagu Nirvana dari album Incesticide, dan gua selalu menunggu setiap penampilan mereka.

Dari mereka semua, yang berhasil mencuat mengeluarkan album hanya Toilet Sound, yang sekarang kabarnya juga udah gak jelas. Generasi grunge sekarang adalah Cupumanik, Navicula serta Besok Bubar, yang mana ketiganya pernah manggung di acara musik stasiun TV One, Radioshow. Bagi gua yang saat ini adalah seorang karyawan yang sudah berumah tangga, niat untuk bermain musik, apapun itu bentuknya jelas sudah tinggal dalam bentuk nostalgia semata. Terlalu banyak energi dan waktu yang harus dikeluarkan, diri ini jelas sudah terlalu tua untuk itu .. hehe. Tapi jelas gua salut dengan perjuangan anak-anak dari Pearl Jam Indonesia yang kabarnya sering bikin acara kopi darat, dan bahkan melakukan jam session cukup rutin. Gathering akbar pun pernah dilakukan, dan mereka punya misi : Bring Pearl Jam to Indonesia saat ini. Tentu bila misi mereka terwujud, gua jelas harus meluangkan waktu, pikiran, tenaga serta uang tentunya, untuk hadir di arena moment bersejarah itu terjadi. Tinggal Pearl Jam yang masih mewakili eksistensi musik grunge di dunia saat ini, setidaknya dari sudut pandang gua. Keep on grunge rockin, keep it alive !

TEKNOLOGI YANG MEMPERMUDAH TAPI JUGA BIKIN SUSAH

Ini baru percobaan, posting blog via handphone. Teknologi sekarang memang majunya luar biasa cepet & canggih. Dulu, sejauh-jauhnya ketemu yang namanya touchscreen ya beberapa terminal informasi yang hanya ada terbatas di beberapa tempat tertentu aja, kayak museum, taman mini, dll. Sekarang hampir semua tangan pegang handphone touchscreen. Yang tadinya cuma mampu dijangkau oleh kalangan atas aja sekarang hampir semua kalangan mampu punya, dari beli baru ataupun bekas, dikasih orang atau boleh nemu, baik yang sengaja ataupun ga sengaja. Gw yg tadinya anti sama smartphone aja akhirnya tertarik juga ngikutin perkembangan zaman.Sekarang malah bisa ngeblog segala dari handphone via aplikasi. Canggih bener deh.

Masalahnya, semua jari gw itu kegedean ukurannya buat tombol qwerty yg kecil-kecil banget ini, hasilnya adalah siksaan yg luar biasa. Buat sms aja gw masih struggling, apalagi posting begini. Nyabar-nyabarin hati & jari gw aja, dan ngasih peluang aja buat bini gw ngetawain betapa susahnya pake qwerty yg kecil-kecil ini dan betapa seringnya gw buat kesalahan. Ga bener ini.

udah ah, pegel tangan gw..

BEING A WRITER

Dulu ketika jaman sd, kalo ditanya apa cita-cita gua, jawaban gua adalah : dokter ! Ini karena terinspirasi pilihan profesi ayah gua sendiri, yg saat itu adalah seorang dokter umum (skarang dia adalah seorang dokter spesialis paru2).  Saat itu, biasanya menjelang maghrib gua suka maen di tempat praktek bokap, ngerobek kertas resepnya yg masih kosong utk dijadikan bahan maenan .. hehe.

Masuk SMP, cita2 malah jadi gak jelas, seiring nilai2 gua terutama dibidang IPA yg hancur2an. IPA memang jadi kelemahan gua. dan ketika ditanya masalah cita2, jawaban saat itu adalah : tidak tahu. para guru pun cuma bisa bengong : kok enggak tahu ? mereka mungkin tidak tahu bahwa di masa2 abg tsb, bukan cuma kita mulai mengalami masa puber, krisis identitas dan hal2 yg mulai berubah dari diri kita yg lama pun terjadi, begitu pula dgn cita2 kita semasa kecil.

Ketika SMA, jawaban akan cita2 kembali menghantui karena disitu, ketika kelas 2 SMA, kita harus memutuskan sebuah langkah penting bagi kehidupan kita dimasa depan : mengambil jurusan IPA atau IPS.  Jelas gua ambil IPS, karena cuma dibidang itu nilai gua bersih dari nilai merah di raport .. hehehe. sbg gambaran, kls 2 semester 1, gua pernah dapet nilai 3 di raport utk matematika, 5 utk fisika, 4 utk biologi, & 4 utk kimia. kalo ga salah urutannya seperti itu. nyokap yg ngambil raport, jelas malu ketika meninggalkan kelas. begonya, gua salah liat halaman raport, yg gua liat adalah nilai2 ketika masih kelas 1 semester 3. gua pikir, apa yg salah ? belakangan ketika musti ngebalikin raport ke walikelas, gua baru sadar gua salah liat halaman hehehe. jadi gara2 peristiwa itu, jelas gua memilih IPS, meski terjadi keajaiban ketika semester 2, dimana gua meraih rangking 4 ! dgn kondisi nilai matematika 5, biologi 5 dan kimia 5. fisika dapat 6 ! hahahah. it’s a long story, mungkin laen kali bisa cerita lebih spefisik mengenai ini.

Anway, di kelas 3 ketika gua mengambil IPS, nilai2 gua memang selamat, terutama karena ga harus berhadapan lagi dgn pelajaran2 IPA. nyokap pun agak terhibur karena utk pertama kalinya, sejak kelas 1 smp,  raport gua bersih dari “kebon mawar”, alias nilai2 merah. Lagi2 ketika ditanya soal masa depan atau cita, gua cuma punya satu jawaban pasti : ingin kuliah di bidang ekonomi, utk memperbaiki perekonomian indonesia. jawaban yg sebenarnya merupakan basa-basi dan justru penuh ketidaktahuan, sebuah sikap pasrah, dan melihat masa depan yg penuh teka teki. Tapi minimal gua tau harus menjawab apa. biar ga tengsin2 amat 😛

Hasil dari psikotest ketika menjelang lulus, gua disarankan utk mengambil kuliah di bidang pariwisata / perhotelan, atau ekonomi manajemen.  Well, skarang setelah bertualang bekerja disana sini, gua memang akhirnya bekerja di sebuah hotel bintang 4. Tapi ironisnya, di umur gua yg menjelang 32 tahun ini, gua justru menemukan sebuah jawaban bila ditanya mengenai cita2. Gua ingin menjadi seorang penulis. bukan cuma penulis novel, karna gua ga begitu tertarik dgn dunia penovelan, tapi seorang penulis essay. menulis artikel2 di koran2 atau majalah2. menjadi penulis ulasan sport terutama sepakbola dan tennis.  menulis tentang hal2 berbau sosial, sedikit politik, budaya, gaya hidup, dan masih banyak lagi.

Saat ini semua ini baru bisa diwujudkan melalui blog (menulis sejak 2001 akhir) dan forum2 internet. Yg bikin gua seneng, ada beberapa orang yg sempet memuji beberapa tulisan gua di blog gua yg lama (http://alfaharahap.blogspot.com). padahal itu cuma tulisan iseng2 aja. gua juga sempet nemu buku tentang cara menjadi seorang penulis freelance, dimana bisa dapet duit lumayan dari menjadi seorang penulis freelance, yg tentunya bisa menjadi seorang penulis tetap juga,  berangkat dari situ.

Well, semua masih berupa ide. tapi utk mewujudkan impian, diperlukan kerja keras. minimal, saat ini gua sudah memiliki jawaban atas pertanyaan besar di masa kecil tsb.

Wow … gua satu stengah tahun vakum nge-blog .. hehehe.  Jadi inget jaman2 kuliah, waktu lagi gila2nya nge-blog, dgn akses internet gratis di rumah (karna bokap langganan hehe) maka sehari bisa 2-3 kali posting. Diselingi chatting di mirc, yahoo messenger, morum (nongkrong di forum), dan aktifitas di dunia maya lainnya (seperti download mp3 melalui napster, audiogalaxy, kazaa, yg sudah almarhum semua bagi gua).

Bagi seorang pemuda tanggung seperti gua  saat itu, hidup masihlah sangat sederhana. boro2 mikirin nyari duit, yg menjadi prioritas utama saat itu adalah mencari lagu2 dari band2 paling keren sedunia (go away justin bieber ! ).  Skarang, hidup lebih kompleks, lebih banyak bahan utk nulis blog sebenernya, tapi nuansanya memang sudah berbeda dgn dulu, jadi makin males.

Gua perhatiin udah gak banyak dari temen2 seperjuangan dulu yg masih setia ngisi blog nya masing2.  Kehadiran facebook dan twitter bisa dibilang menggantikan fungsi nge-blog, selaen orang juga udah mulai males ngetik postingan panjang2, atau bisa juga karna seiring dgn perkembangan umur, aktifitas dunia maya itu sudah tergantikan dgn aktifitas dunia nyata yg seabrek.

Gua juga mulai males2an 2 tahun trakhir ini, tapi entah kenapa belakangan ini mood utk nge-blog muncul lagi.  Jadi, selamat datang kembali di dunia maya … cheers !